LIPI Kampanyekan Teknologi Sistem “Peramal Banjir”

Di Indonesia, banjir menjadi masalah serius dan memerlukan solusi komprehensif. Maka diperlukan sistem analisis banjir terpadu untuk menyelesaikan masalah banjir, seperti IFAS (Integrated Flood Analysis System).

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) bersama Komite Nasional International Hydrological Programme (IHP) UNESCO, Asia Pacific Center for Ecohydilogy (APCE) UNESCO, International Centre for Water Hazard Risk (ICHARM) UNESCO, telah mendorong instansi pemerintah untuk aktif membuat sistem peringatan dini terhadap bencana banjir.

Menurut Ignasius Dwi Atmana Sutapa, Sekretaris Eksekutif APCE UNESCO dan Peneliti Utama Pusat Penelitian Limnologi LIPI, salah satu upaya untuk memperkuat teknis penanganan banjir adalah melalui studi tentang Flood Forecasting and Warning System (FFWS) atau perkiraan banjir dan sistem peringatannya.

“Data-data dari FFWS yang berintegrasi dengan model Integrated Flood Analysis System (IFAS) berfungsi untuk meramalkan bencana banjir yang akan datang,” kata Sutapa, saat ditemui di Hotel Grand Kemang, Jakarta, 15 Januari 2013. “Selain itu, sistem ini bisa sebagai peringatan dini terhadap masyarakat.”

Dia menambahkan, IFAS adalah software yang berfungsi untuk memprediksi pola-pola hujan yang terjadi dan membuat prediksi penanganan banjir. “Ada 23 parameter untuk membuat prediksi, seperti curah hujan, debit air sungai, perubahan iklim, dan lain-lain,” tutur Sutapa.

Bagaimana cara IFAS bekerja?

Deputi Ilmu Pengetahuan Kebumian LIPI, Iskandar Zulkarnain, menjelaskan IFAS juga dapat menghitung jumlah area yang akan terkena banjir. Setelah itu. baru ada pembuatan peringatan dini banjir kepada masyarakat.

“Ini adalah pembuatan model untuk mengetahui  dampak-dampak kerusakan banjir. Sistem ini harus digunakan oleh pemerintah dalam upaya mengurangi dampak kerugian sosial dan ekonomi dari bencana banjir,” kata Iskandar Zulkarnain.

Pelatihan Program

Ia menambahkan, saat ini sedang ada pelatihan program (software) IFAS kepada Dinas Pekerjaan Umum (PU) di Jawa Tengah, Jawa Barat, Jawa Timur, Banten, Jakarta, dan Lampung.

“Ini kita lakukan agar Dinas PU bisa mengetahui kapan terjadinya banjir dan bagaimana dampaknya di daerahnya masing-masing,” ujar Iskandar.

“Sistem IFAS ini bukan sistem baru. Dinas PU sudah punya sistem ini, tapi dengan nama yang berbeda

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s